Selain Wabah COVID-19 ada Wabah Demam Berdarah yang mengintai Kematian

Wabah Demam Berdarah Dengue atau yang sering disingkat DBD masih menjadi salah satu wabah yang trending didunia kesehatan. Disaat pandemi Covid-19 yang belum selesai masyarakat terkadang lalai terhadap wabah DBD yang masih mengintai, mereka hanya berfokus pada pencegahan Covid-19 saja. Menurut Dinas Kesehatan Kota Semarang, selama periode bulan Januari hingga Maret 2021 terdapat 37 kasus wabah DBD di wilayah Kota Semarang.

Salah satu tanda gejala DBD adalah demam, pada fase demam seseorang akan mengalami demam yang tinggi hingga 400 C , kemudian berikutnya masuk fase kritis atau fase pengecoh dimana demam akan mengalami penurun hingga 370 C seringnya masyarakat akan menganggap demam sudah sembuh karena suhunya sudah turun tetapi justru di fase inilah seseorang dapat mengalami kebocoran pembuluh darah jika tidak ditangani dengan tepat maka bisa mengalami perdarahan yang berujung kematian.

Penyebab dari penyakit DBD ini adalah nyamuk Aedes Aegypti berjenis kelamin betina, biasanya nyamuk ini hidup di genangan air yang bersih seperti bak mandi, talang air, vas atau pot bunga, tempat minum burung, ayam, kucing atau hewan peliharaan lain yang ada didalam rumah. Lalu, bagaimana kita mencegah perkembangan nyamuk Aedes Aegypti? Caranya sangat mudah yaitu dengan menerapkan “5M PLUS” , 5M pencegahan DBD diantaranya : Menguras Bak Mandi, Menutup tempat penampungan air, Mengubur, mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas, Menggunakan Larvasida, Memantau jentik berkala.

Adapun tambahan “PLUS” untuk pencegahan DBD yaitu : Memakai kelambu, Tidak menggantung Baju kotor, Menanam tanaman pengusir nyamuk, Meletakkan ikan pemakan jentik di Bak Mandi, Menggunakan obat nyamuk, raket nyamuk atau lotion antinyamuk.

Melihat pentingnya pencegahan DBD dilingkungan masyarakat, maka dari itu dosen Sains Biomedis Universita IVET Semarang, Ibu Restu bersama JUMANTIK RT05 RW02 Lamper Krajan, Kelurahan Lamper Lor, Kecamatan Semarang Selatan melaksanakan PJN di wilayah RT guna menekan angka kasus DBD di wilayah kota Semarang.

Restu Ayu Eka PD SSiT MBiomed dosen prodi Sains biomedis Universitas Ivet

Share this post on: