Vitamin D dan Imunitas di Masa Pandemi

Umar Hidayat S Si M Gizi

Dosen prodi gizi Universitas Ivet

Benarkah vitamin D berperan dalam menjaga daya tahan tubuh? Benarkah berjemur di bawah sinar matahari dapat meningkatkan kadar vitamin D dalam tubuh? Apakah vitamin D dosis tinggi aman bagi tubuh? Demikian beberapa pertanyaan yang saat ini sering muncul karena adanya kesadaran masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuhnya di masa pandemi covid-19.

Masyarakat mulai mencari tahu dari bermacam referensi tentang zat gizi, bahan makanan, suplemen dan berbagai hal yang berkaitan dengan peningkatan daya tahan tubuhnya, tidak terkecuali referensi tentang vitamin D.

Dahulu vitamin D hanya diketahui secara luas sebagai vitamin yang berperan dalam menjaga kesehatan tulang dan gigi. Hal tersebut benar adanya, karena defisiensi vitamin D dapat menyebabkan kelainan bentuk tulang pada anak-anak dan nyeri tulang pada orang dewasa. Sehingga dapat dikatakan, vitamin ini sangat berperan dalam kesehatan tulang dan gigi. Namun, dengan berkembangnya media dan arus informasi yang begitu pesat, masyarakat saat ini dapat dengan mudah dan cepat mengetahui bahwa vitamin D juga berperan dalam menjaga dan meningkatkan kerja imun, otot, dan syaraf.

Bahkan saat ini sudah banyak penelitian terkait hubungan antara kadar vitamin D dalam darah dan tingkat risiko terjadinya pneumonia dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat virus. Vitamin D merupakan vitamin anti peradangan. Oleh sebab itu, vitamin D dipercaya mampu mengurangi dampak peradangan pada paru – paru dan saluran napas. Pada penelitian lain juga diketahui adanya keterkaitan antara kadar vitamin D yang rendah dengan risiko terjadinya perburukan asma pada penderita asma.

Sedangkan penelitian terkait efektivitas vitamin D dalam pencegahan maupun pemulihan penderita infeksi covid-19 masihlah terbatas. Namun, kemampuan vitamin D dalam melindungi tubuh dari infeksi saluran pernapasan akut serta menurunkan risiko terjadinya badai sitokin dan komplikasi lain terkait peradangan, membuat vitamin ini digunakan sebagai salah satu terapi pada penderita infeksi covid-19.

Hal ini pula yang mendasari Kementrian Kesehatan RI memberikan anjuran kepada masyarakat untuk mencukupi kebutuhan vitamin D tubuhnya melalui konsumsi makanan sumber vitamin D dalam jumlah yang cukup, baik kuantitas dan kualitasnya, serta membiasakan tubuh terpapar sinar matahari langsung selama 10 hingga 15 menit sehari pada pagi dan sore hari sebanyak 3 kali seminggu.

Meski efektivitas vitamin D untuk covid-19 masih perlu diteliti lebih lanjut, konsumsi vitamin D harian tetap harus cukup. Kekurangan vitamin D dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, diantaranya penyakit jantung, hipertensi, diabetes, gangguan sistem kekebalan tubuh, kanker (seperti kanker prostat dan kanker payudara), multiple sclerosis, radang paru-paru, pembekuan darah, dan penyakit pernapasan, seperti tuberkulosis serta asma. Semua gangguan kesehatan ini dapat memperburuk kondisi tubuh jika terjadi infeksi covid-19.

Vitamin D dapat diperoleh tubuh melalui berbagai macam sumber. Tubuh dapat memproduksi vitamin D secara alami ketika terkena paparan sinar matahari dengan mengubah kolesterol pada kulit menjadi zat yang disebut kalsitriol. Namun, kebutuhan tubuh akan vitamin D tetaplah perlu dicukupi dari asupan makanan, bahkan jika diperlukan tambahan suplemen vitamin D untuk kondisi tertentu. Pada dasarnya, dari sumber makanan dapat diperoleh dan dibedakan menjadi 2 jenis vitamin D. Vitamin D2 yang dikenal sebagai ergokalsiferol bersumber dari makanan nabati seperti jamur yang terkena paparan sinar matahari langsung.

Sedangkan vitamin D3 yang dikenal sebagai kolekalsiferol berasal dari bahan makanan hewani seperti minyak ikan, hati, kuning telur, mentega, atau suplemen. Vitamin D3 lebih mudah diserap oleh tubuh dan lebih efektif dalam meningkatkan level vitamin D dalam darah. Hal ini karena tubuh memecah vitamin D2 lebih cepat, sehingga lebih cepat hilang dari tubuh. Saat mengkonsumsi makanan sumber vitamin ini dalam jumlah dan waktu yang sama, vitamin D2 akan berkurang jumlahnya setelah 14 hari. Sedangkan vitamin D3 masih tetap berada dalam tubuh hingga 28 hari setelah asupan pertama. Metabolisme vitamin D2 dan D3 ini berlangsung di hati dan ginjal, baik yang diperoleh dari makanan maupun vitamin D3 yang diproduksi oleh tubuh sendiri. Pada proses metabolisme di hati akan dihasilkan senyawa kalsidiol (calcidiol) yang kemudian akan dilanjutkan prosesnya di ginjal menjadi senyawa kalsitriol (calcitriol). Senyawa kalsitriol inilah yang disebut sebagai vitamin D aktif, yang kemudian memberikan banyak peran penting bagi tubuh setelah disebarkan melalui aliran darah menuju ke targetnya.

Hal yang perlu menjadi perhatian dalam mengonsumsi suplemen vitamin D untuk meningkatkan level dalam darah adalah dosisnya, karena suplementasi cukup efektif dalam meningkatkan level vitamin larut lemak ini dalam darah. Vitamin D adalah vitamin yang dapat tersimpan dalam jaringan lemak tubuh, konsumsi suplemen vitamin D berlebihan dapat menyebabkan racun, yang dapat mengarah pada mual dan muntah, masalah ginjal, depresi, dan penumpukan kalsium pada pembuluh darah, serta organ vital. Oleh sebab itu, tetap lebih dianjurkan memenuhi kebutuhan vitamin ini melalui asupan makanan sumber vitamin D dan rutin berjemur di bawah sinar matahari sesuai anjuran. Jumlah vitamin D harian yang direkomendasikan berkisar 400 IU (International Unit) untuk anak dibawah 1 tahun, 600 IU untuk usia 1- 70 tahun, dan 800 IU untuk usia diatas 70 tahun.

Sering terjadi defisiensi vitamin D pada umumnya disebabkan oleh kurangnya aktivitas di bawah sinar matahari langsung, seperti pekerjaan di kantor, bekerja dalam ruangan seharian, aktivitas sekolah dalam kelas tanpa diselingi jeda aktivitas luar ruangan yang cukup, dan sejenisnya. Selain itu, pola makan yang tidak memperhatikan kecukupan zat gizi, juga turut berpengaruh. Faktor obesitas juga mempengaruhi rendahnya level vitamin D dalam darah. Tingginya kadar lemak pada tubuh, justru akan menjadi tempat menimbun vitamin D. Hal ini yang akan menjadikan sia-sia, karena tidak dapat diolah dan dimanfaatkan oleh tubuh menjadi bentuk aktifnya. Faktor usia juga turut berpengaruh, karena bagaimanapun juga, fungsi dan kerja metabolisme di usia lanjut sudah mulai menurun. Dengan memperhatikan berbagai aspek yang berkaitan dengan vitamin D tersebut, diharapkan dapat menjadi pedoman dalam memenuhi kebutuhannya di masa pandemi, sehingga vitamin yang luar biasa ini dapat memberikan manfaatnya secara optimal bagi tubuh.

Share this post on: